Hari ini tidaklah jauh berbeda seperti hari biasanya. Dikatakan tidak jauh berbeda, berarti pasti ada seberapa persen yang hai yang berbeda. jari inipun menulis seolah apa yang yang dibisikkan oleh suara hati. Sebenarnya akupun tidak mengerti dengan apa yan kulakukan ini, tapi kurasa hanya tulisan inilah yan mengerti keaadaanku saat ini. Disaat orang- orang disekitarku merasa sedih sambil mengatakan “ kamu memang tidak beruntung”, aku hanya terdiam dan termenung mendengarnya. Saebenarnya akupun sangat sedih dan terpukul dengan kejadian ini, bahkan raga ini serasa tak bertulang lagi, tapi apakah aku harus berhenti hanya sampai disini ? kurasa tidak, dan hati kecil inipun menolaknya.
Entah aku egois ataukah sombong, tapi adakah orang pernah sedih karena kesombongannya.? Saat mengurai kata- kata ini sebenarnya, aku berada pada tingkat kesedihan yan amat sangat mendalam. Siapa yang tidak tersentuh hatinya, ketika melihat keaadan seisi rumah yang muram karena merasa iba kepada kita. Aku bukanlah sang penentu yang dapat denagan mudah menentukan ini maupun itu dan akupun bukan paranormal yang katanya dapat melihat masa depan, aku hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa, lupa dan kesalahan. Andai aku bias berandai, maka aku tidak mau hal ini sampai terjadi.
Mungkin kalian akan heran jika melihatku saat ini, karma mungkin kalian mengira aku akan meneteskan air mata. Tapi itu tidaklah terjadi, sebab aku tidak pernah ingin dibelas kasihani oleh sesama ciptaan. Aku terus berusaha untuk tetap terlihat tegar dan terus berusaha membangun kembali pondasi- pondasi harapan yang telah tercecer . sebab sejauh yang pernah saya ketahui memang sulit untuk membangun sebuah pondasi yang telah runtuh seorang diri, tapi kalau boleh saya ralat, bahwa itu memang sebuah perkara yang rumit, tapi berusaha untuk membanunnya kembali itu jauh lebih baik dari pada hanya berdiam diri ditempat dan yterus senyesali segala apa yang telah terjadi.
Mulailah untuk memotifasi diri untuk melihat kenyataan yang ada. Karna orang yang tak dapat melihat kenyataan, sesungguhnya merekalah yang hakikatnya buta akan segala hal. Tidakkah mereka berhenti sejenak dari kesibukan duniawinya untuk merenungi dan memperhatikan keadaan disekitarnya ? dan apabila mereka benar- benar telah mengerti akan arti kehidupan, maka mereka akan mengatakan kepada orang- orang yang putus asa, “serumit dan sesusah apapun masalah yang kau hadapi, janganlah pernah sekalipun mengatakan bahwa kamu telah kalah. Terskanlah perjuanganmu untuk meraih apa yang kamu cita- citakan dangan penuh rasa optimis”.